Harga Cabai di Pasar Muara Teweh Meledak, Pedagang Mengeluh, Pembeli Mengirit
Inews Muara Teweh- Pedasnya harga cabai di Pasar Ipu, Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, kini bukan hanya terasa di lidah, tetapi juga di dompet warga. Dalam sepekan terakhir, harga cabai meroket tajam dan membuat pedagang serta pembeli sama-sama mengelus dada.
Berdasarkan pantauan di lapangan, cabai tiung besar kini dijual hingga Rp130.000 per kilogram, sementara cabai tiung kecil menembus Rp150.000 per kilogram. Padahal, seminggu sebelumnya, harga masih berkisar antara Rp90.000 hingga Rp100.000.
“Kalau pasokan dari petani banyak, harga bisa turun. Tapi kalau barang sedikit, harganya langsung naik. Sekarang banyak yang gagal panen, pupuk mahal, dan ongkos kirim juga naik,” ungkap Heni, salah satu pedagang pasar sambil menata dagangannya.
Pedagang lain menambahkan bahwa lonjakan harga ini mulai terasa sekitar tiga hari lalu dan membuat pembeli mulai mengurangi jumlah belanja. Dampaknya, omzet penjualan pedagang turun hingga 50% dibandingkan kondisi normal.

Baca Juga : Gubernur Agustiar Sabran Turun Tangan Awasi PSU di Barito Utara
Faktor Pemicu Kenaikan
Kenaikan harga cabai dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya:
-
Cuaca ekstrem yang mengganggu masa tanam dan panen.
-
Kelangkaan pupuk yang membuat biaya produksi petani melonjak.
-
Biaya distribusi yang semakin mahal akibat harga bahan bakar dan transportasi.
Kondisi ini membuat pasokan cabai di pasar semakin terbatas. Akibatnya, harga pun terus merangkak naik dari hari ke hari.
Sayuran Lain Ikut Naik
Tak hanya cabai, sejumlah komoditas sayuran lain seperti sawi, bayam, kol, dan kacang panjang juga mengalami kenaikan harga. Walaupun kenaikannya tidak setajam cabai, tren ini membuat masyarakat semakin terbebani.
Banyak pembeli kini terpaksa mengurangi pembelian cabai atau beralih ke jenis cabai lain yang lebih murah. Sebagian bahkan mencoba menanam cabai sendiri di pekarangan rumah sebagai langkah menghemat pengeluaran.
Meski begitu, para pedagang dan pembeli berharap harga bisa segera stabil. “Kalau begini terus, yang susah bukan cuma pembeli, pedagang juga bingung mau jualan apa,” kata Heni sambil tersenyum pahit.
Pedagang dan Pembeli Cari Solusi
Pedagang mulai mencari cara agar tetap bisa menarik pembeli di tengah lonjakan harga. Sebagian menawarkan pembelian dalam jumlah kecil, seperti setengah ons atau seperempat kilogram, supaya pembeli tetap bisa menikmati cabai meski dalam porsi terbatas.
Sementara itu, pembeli menyesuaikan menu masakan di rumah. Mereka mengurangi porsi cabai dalam sambal dan mengganti dengan bumbu lain seperti tomat atau cabai kering yang harganya lebih stabil.
Petani Berjuang di Tengah Tantangan
Di sisi lain, petani cabai di wilayah pemasok Muara Teweh berjuang untuk memulihkan hasil panen. Mereka memperbaiki sistem irigasi agar tanaman tidak rusak akibat curah hujan tinggi. Petani juga mencoba mengganti pupuk yang sulit didapat dengan alternatif pupuk organik buatan sendiri.
Langkah ini memang membutuhkan waktu, namun mereka optimistis bisa menambah pasokan dalam beberapa minggu ke depan.
Harapan untuk Stabilitas Harga
Pemerintah daerah melalui Dinas Perdagangan dan Dinas Pertanian mulai mengadakan pertemuan dengan pedagang dan petani. Tujuannya, mencari strategi yang bisa menekan harga dan menjaga pasokan tetap lancar.
Beberapa program yang dibahas meliputi subsidi pupuk, pengaturan jadwal tanam, dan peningkatan transportasi distribusi. Jika rencana ini berjalan baik, warga berharap harga cabai dan sayuran lain bisa kembali terjangkau menjelang akhir bulan.
Di tengah situasi ini, pedagang, pembeli, dan petani terus beradaptasi. Semua berharap badai harga tinggi ini segera reda, sehingga aroma pedas cabai kembali menghadirkan nikmat, bukan keluhan.















