Murung Raya Dilanda Bencana: Empat Kecamatan Masih Terancam, Debit Air Sungai Barito Terus Meningkat
Inews Muara Teweh– Banjir bandang yang dipicu curah hujan tinggi telah meluluhlantakkan ketenangan di tujuh kecamatan. Hingga berita ini diturunkan, kondisi tetap mengkhawatirkan. Empat kecamatan, yaitu Seribu Riam, Sumber Barito, Permata Intan, dan Murung, masih berada dalam situasi genting dengan debit air yang terus merangkak naik, mengancam ratusan bahkan ribuan jiwa yang terdampak.
Sementara itu, secercah harapan datang dari tiga kecamatan lainnya—Tanah Siang, Sungai Babuat, dan Laung Tuhup—di mana air mulai surut, meninggalkan lumpur, kerusakan, dan trauma yang dalam. Perbedaan kondisi ini menggambarkan dinamika bencana yang tidak menentu dan fluktuatif.
Sungai Barito: Nadi yang Kini Mengamuk
Banjir di Murung Raya memiliki karakteristik khusus yang erat kaitannya dengan alam. Kepala Pelaksana BPBD Murung Raya, Fitrianul Fakhriman, menjelaskan bahwa bencana ini pada dasarnya adalah luapan air dari Sungai Barito, sungai terpanjang di Kalimantan Tengah yang menjadi nadi kehidupan sekaligus sumber ancaman saat musim hujan tiba.
“Kondisi air sekarang masih merangkak naik untuk daerah terlanda luapan Sungai Barito, walaupun agak pelan naiknya,” ujar Fakhriman kepada detikKalimantan, Kamis (21/8/2025).

Baca Juga: Kweni, Mangga Lokal Beraroma Kuat yang Jadi Favorit Pecinta Buah
Kekhawatiran utama terletak pada data pemantauan yang terus bergerak. Pada sore hari di posko induk, alat pantau mencatat ketinggian air mencapai 7,75 cm, sebuah angka yang menjadi penanda bahwa banyak wilayah telah berubah menjadi lautan. “Data ini akan terus bergerak. Fluktuatif. Jadi bisa berubah-ubah,” kata Fakhriman, menekankan ketidakpastian yang membuat timnya terus siaga penuh.
Pemicu utama luapan ini adalah intensitas hujan yang sangat tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca di Murung Raya masih berkisar pada kategori menengah dengan curah hujan 50-75 mm, yang cukup untuk menambah volume air di sungai yang sudah penuh.
Dampak dan Upaya Pertolongan: Sebuah Gambaran Kesabaran dan Ketangguhan
Banjir ini telah memaksa ratusan kepala keluarga (KK) meninggalkan rumah mereka. Di wilayah yang mulai surut, gambaran dampaknya mulai terlihat jelas.
-
Kecamatan Tanah Siang: Desa Nono Kliwon menjadi korban dengan 38 rumah terendam. Sebanyak 60 KK mengungsi ke rumah kerabat yang lokasinya lebih aman, mencari perlindungan sementara menunggu air benar-benar surut.
-
Kecamatan Sungai Babuat: Enam desa harus berjuang melawan arus, yaitu Desa Batu Mirau, Tambelum, Tumbang Apat, Bantian, Kolon, dan Tumbang Saan. Pendataan korban masih terus dilakukan oleh tim Pusdalops dan TRC BPBD untuk memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal.
-
Kecamatan Laung Tuhup: Dampak terparah terlihat di sini dengan sembilan desa yang terkena banjir, termasuk Tumbang Bana, Narui, Biha, dan beberapa desa lainnya. Skala kerusakan yang luas membutuhkan penanganan ekstra.
Menanggapi hal ini, tim BPBD Murung Raya telah turun langsung ke tiga kecamatan yang airnya mulai surut. Upaya pemulihan segera dimulai dengan pembersihan sarana umum dan rumah warga dari endapan lumpur dan material banjir. Yang tak kalah penting, pendistribusian logistik untuk dapur umum pasca-banjir bandang telah digelar untuk memastikan kebutuhan dasar para pengungsi dan korban terpenuhi.
Antara Kenaikan dan Penurunan: Menanti Ketidakpastian dengan Harap
Perbedaan kondisi antara empat kecamatan yang airnya masih naik dan tiga yang sudah surut menciptakan dua situasi yang berbeda. Di satu sisi, warga di Seribu Riam, Sumber Barito, Permata Intan, dan Murung harus terus waspada, bersiap untuk kemungkinan evakuasi mendadak jika air terus meninggi. Setiap tetes hujan yang jatuh akan ditunggu dengan cemas.
Di sisi lain, warga di Tanah Siang, Sungai Babuat, dan Laung Tuhup memasuki fase pemulihan yang melelahkan. Mereka harus membersihkan sisa-sisa bencana, memulai kembali kehidupan, dan berusaha menyembuhkan luka trauma, sambil berharap banjir tidak datang kembali.
Banjir di Murung Raya adalah pengingat nyata tentang kekuatan alam dan kerentanan manusia di hadapannya. Perubahan iklim yang menyebabkan curah hujan ekstrem dan faktor lingkungan lainnya menjadikan bencana seperti ini mungkin akan lebih sering terjadi. Kewaspadaan, mitigasi bencana yang kuat, dan kesiapsiagaan dari semua pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat, menjadi kunci untuk mengurangi dampak dan menyelamatkan lebih banyak nyawa di masa depan. Untuk saat ini, doa dan bantuan semua pihak sangat dinantikan untuk membantu saudara-saudara kita di Murung Raya bangkit dari keterpurukan.















